Tuesday, 16 October 2018

Tari Bedhaya Ketawang dari Surakarta Jawa Tengah

View Article
Tari Bedhaya Ketawang dari Surakarta Jawa Tengah | Adatnusantara - Tari Bedhaya / Bedaya / Bedhoyo adalah termasuk dalam tarian klasik yang merupakan tari tradisional yang dikembangkan di keraton-keraton pewaris tahta kerajaan Mataram. Bedaya dapat diartikan secara gemulai dan meditatif, dengan iringan gamelan minimal di sebagian besar repertoarnya. Tarian bedhaya sering kali merupakan hasil inspirasi raja mengenai suatu peristiwa tertentu yang disajikan dalam bentuk yang sangat stilistik. Penari bedaya berjumlah sembilan untuk bedaya yang berasal dari Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta, sementara untuk bedaya yang berasal dari Kadipaten Mangkunegaran dan Pakualaman berjumlah tujuh. Pada kesempatan ini, kita akan mengenal salah satu tarian bedhaya yang berasal dari Kasunanan Surakarta, yaitu tari Bedhaya Ketawang.




1. Tentang Tari Bedhaya Ketawang


Tarian Bedhaya Ketawang adalah pusaka Kasunanan Surakarta - Jawa Tengah, tari bedhaya ketawang ini ditarikan oleh sembilan penari putri setiap perayaan jumenengan dalem (wisuda / pelantikan) Sunan Surakarta. Konon tarian bedhaya ketawang ini  diciptakan oleh Sultan Agung. Durasi tarian ini sekitar satu setengah jam dan menceritakan tentang pertemuan Panembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kidul serta perjanjian keduanya untuk saling menjaga kedua kerajaan.

2. Sejarah Tari Bedhaya Ketawang

Tidak ada catatan yang pasti mengenai asal usul tari Bedhaya Ketawang, yang pasti banyak sekali cerita dan mitos yang berkembang tentang terciptanya tarian Bedhaya Ketawang.

Salah satu mitos terciptanya Tari Bedhaya Ketawang ini bermula saat Sultan Agung Hanyakrakusuma (yang memerintah Kasultanan Mataram tahun 1613 - 1645) sedang melakukan semedi. Pada saat keheningan semedi tersebut, Sultan Agung mendengar tetembangan (senandung) dari langit (tawang).  Maka setelah selesai melakukan semedi, Sang Sultan memanggil 4 orang pengiringnya yaitu Panembahan Purbaya, Kyai Panjang Mas, Pangeran Karang Gayam II, dan Tumenggung Alap-Alap. Pada keempat pengiring tersebut, Sultan Agung mengutarakan pengalaman batinnya. Dan bermaksud menciptakan tarian yang dinamakan Bedaya Ketawang.

Namun ada juga legenda terciptanya Tari Bedaya Ketawang versi lainnya. menurut kitab Wedhapradagna, tarian Bedhaya Ketawang ini diciptakan oleh Sultan Agung (raja ketiga Kerajaan Mataram), dan Kanjeng Ratu Kidul diminta oleh Sultan untuk mengajarkan secara langsung gerakan tarian tersebut kepada para penari kesayangan Sultan. Pelajaran tari ini diselenggarakan setiap malan Anggara Kasih (selasa kliwon). Sampai saat inipun, para penari masih melakukan latihan pada hari tersebut.



Selain dua cerita diatas, masih ada cerita tentang asal usul tari Bedhaya Ketawang ini. Bedhaya Ketawang menggambarkan lambang cinta birahi Kanjeng Ratu Kidul pada Panembahan Senopati (raja pertama Kerajaan Mataram) segala gerak melambangkan bujuk rayu dan cumbu birahi, walaupun dapat dielakkan Sinuhun, Kanjeng Ratu Kidul tetap memohon agar Sinuhun ikut bersamanya menetap di dasar samodera dan bersinggasana di Sakadhomas Bale Kencana ( Singgasana yang dititipkan oleh Prabu Rama Wijaya di dasar lautan) dan terjadilah Perjanjian/Sumpah Sakral antara Kanjeng Ratu Kidul dan Raja Pertama tanah Jawa, yang tidak dapat dilanggar oleh Raja-Raja Jawa yang Turun Temurun atau Raja-Raja Penerus. 

Namun terlepas dari asal usul adanya Tari Bedhaya Ketawang, pada akhirnya tari Bedhaya Ketawang diwariskan pada Kasunanan Surakarta. Hal ini terjadi setelah Perjanjian Giyanti pada tahun 1755, dimana Pakubuwana III bersama Hamengkubuwana I melakukan pembagian harta warisan Kesultanan Mataram, yang sebagian menjadi milik Kasunanan Surakarta dan sebagian lainnya menjadi milik Kesultanan Yogyakarta. Termasuk pembagian warisan budaya yang menjadikan Tari Bedhaya Ketawang menjadi milik istana Surakarta. Kemudian dalam perkembangannya sampai sekarang ini Tari Bedhaya Ketawang masih tetap dipertunjukkan saat penobatan dan upacara peringatan kenaikan tahta Sunan Surakarta. 

3. Fungsi dan Makna Tari Bedaya Ketawang


Selain berfungsi sebagai sarana hiburan, Tari Bedhaya Ketawang memiliki fungsi dan makna khusus yang berhubungan dengan proses penciptaan tarian Bedhaya Ketawang itu sendiri.


Menurut kepercayaan masyarakat, setiap Tari Bedhaya Ketawang ini dipertunjukkan maka dipercaya Kangjeng Ratu Kidul akan hadir dalam upacara dan ikut menari sebagai penari ke sepuluh. Dalam mitologi Jawa, sembilan penari Bedhaya Ketawang menggambarkan sembilan arah mata angin yang dikuasai oleh sembilan dewa yang disebut dengan Nawasanga.

Versi lain menyebutkan bahwa jumlah penari yang sembilan orang merupakan lambang dari Sembilan Wali atau Wali Songo.

Pada tari Bedhaya Ketawang, sembilan penari nya memiliki nama dan fungsi masing-masing. Tiap penari tersebut memiliki simbol pemaknaan tersendiri untuk posisinya, yaitu:
  1. Penari pertama disebut Batak yang disimbolkan sebagai pikiran dan jiwa.
  2. Penari ke dua disebut Endhel Ajeg yang disimbolkan sebagai keinginan hati atau nafsu.
  3. Penari ke tiga disebut Endhel Weton yang disimbolkan sebagai tungkai kanan.
  4. Penari ke empat disebut Apit Ngarep yang disimbolkan sebagai lengan kanan.
  5. Penari ke lima disebut Apit Mburi yang disimbolkan sebagai lengan kiri.
  6. Penari ke enam disebut Apit Meneg yang disimbolkan sebagai tungkai kiri.
  7. Penari ke tujuh disebut Gulu yang disimbolkan sebagai badan.
  8. Penari ke delapan disebut Dhada yang disimbolkan sebagai badan.
  9. Penari ke sembilan disebut Buncit yang disimbolkan sebagai organ seksual. Penari ke sembilan disini direpresentasikan sebagai konstelasi bintang-bintang yang merupakan simbol tawang atau langit. 

4. Pertunjukan Tari Bedhaya Ketawang


Tari Bedhaya Ketawang ditarikan oleh 9 orang penari. Namun penari bedhaya ketawang bukanlah penari sembarangan, sebagai tarian sakral, ada beberapa syarat yang harus dimiliki oleh penarinya. Syarat utama adalah penarinya harus seorang gadis suci dan tidak sedang haid. Jika sedang haid maka penari tetap diperbolehkan menari dengan syarat harus meminta izin kepada Kangjeng Ratu Kidul dengan dilakukannya caos dhahar di Panggung Sangga Buwana, Keraton Surakarta. Syarat selanjutnya yaitu suci secara batiniah. Hal ini dilakukan dengan cara berpuasa selama beberapa hari menjelang pergelaran. Kesucian para penari benar-benar diperhatikan karena konon kabarnya Kangjeng Ratu Kidul akan datang menghampiri para penari yang gerakannya masih salah pada saat latihan berlangsung.

Pada awalnya tari Bedhaya Ketawang dilakukan selama 2,5 jam. Namun sejak zaman Pakubuono X, tarian ini dilakukan dengan durasi 1,5 jam saja.

5. Musik Pengiring Tari Bedhaya Ketawang


Tari Bedhaya Ketawang yang berasal dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat  Solo - Jawa Tengah ini diiringi musik tradisional Jawa Tengah berupa Gamelan yang disebut dengan Gending Ketawang Gedhe. Gending Ketawang Gedhe ini bernada pelog. Perangkat gamelan yang digunakan untuk membawakan gending ketawang gedhe ini terdiri dari lima jenis, yaitu kethuk, kenong, kendhang, gong, dan kemanak, yang sangat mendominasi keseluruhan irama gending.

Bedhaya Ketawang dibagi menjadi tiga adegan (babak). Di tengah-tengah tarian, laras (nada) gending berganti menjadi nada slendro selama dua kali, kemudian nada gending kembali lagi ke laras pelog hingga tarian berakhir. Pada bagian pertama tarian diiringi dengan tembang Durma, selanjutnya berganti ke Retnamulya. Pada saat mengiringi jalannya penari masuk kembali ke Dalem Ageng Prabasuyasa, alat gamelan yang dimainkan ditambah dengan rebab, gender, gambang, dan suling. Ini semuanya dilakukan untuk menambah keselarasan suasana.




6. Kostum Penari Bedhaya Ketawang



Busana adat atau kostum yang digunakan oleh para penari Bedhaya Ketawang adalah dodot ageng atau disebut juga basahan, yang biasanya digunakan oleh pengantin perempuan Jawa. Penari juga menggunakan gelung bokor mengkurep, yaitu gelungan yang berukuran lebih besar daripada gelungan gaya Yogyakarta,[4] serta berbagai aksesoris perhiasan yang terdiri atas centhung, garudha mungkur, sisir jeram saajar, cundhuk mentul, dan tiba dhadha (rangkaian bunga melati yang dikenakan di gelungan yang memanjang hingga dada bagian kanan). Busana penari Bedhaya Ketawang sangat mirip dengan busana pengantin Jawa dan didominasi dengan warna hijau, menunjukkan bahwa Bedhaya Ketawang merupakan tarian yang menggambarkan kisah asmara Kangjeng Ratu Kidul dengan raja-raja Mataram.

Tari Bedhaya Ketawang Surakarta

 7. Video Tari Bedhaya Ketawang Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat Solo - Jawa Tenah


Untuk mengetahui keindahan seni tari Bedhaya Ketawang, berikut ini kami tampilkan cuplikan video Bedhaya Ketawang yang ditampilkan di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat Solo - Jawa Tengah yang diupload oleh www.kratonpedia.com di situs youtube.com.


Demikian sobat Tradisi, Penjelasan mengenai Tari Klasik dari Jawa Tengah yang dikenal dengan nama Tari Bedhaya Ketawang. Tari Bedhaya Ketawang ini merupakan salah satu kekayaan budaya khususnya dalam bidang seni tarian daerah Indonesia. Semoga bermanfaat

Referensi :
https://id.wikipedia.org/wiki/Bedaya_ketawang

Tari Topeng Betawi Artikel Lengkap

View Article
Tari Topeng Betawi | Adatnusantara - Tari Topeng merupakan tarian yang penarinya menggunakan topeng. Topeng merupakan penutup wajah yang menampilkan suatu karakter tertentu. Topeng ini sudah ada sejak zaman pra-sejarah. Indonesia yang kaya akan budaya dan kesenian khususnya seni tari, memiliki beragam seni tari topeng. Diantaranya dikenal tari topeng dayak, tari topeng bali, tari topeng cirebon, tari topeng malang, dan tari topeng betawi.


1. Tentang Tari Topeng Betawi


Tari Topeng Betawi adalah salah satu tarian masyarakat adat Betawi yang ada di Provinsi DKI Jakarta. Topeng Betawi sebenarnya lebih tepat dikatakan sebagai seni teater masyarakat Betawi, karena pertunjukan seni topeng betawi ini menggabungkan seni tari dengan seni musik dan teater layaknya kesenian lenong yang juga tumbuh dan berkembang di Betawi.

Kesenian Topeng Betawi ini terdiri atas Topeng Blantek dan Topeng Jantuk. Pertunjukkan topeng biasanya dimaksudkan sebagai kritik sosial atau untuk menyampaikan nasehat-nasehat tertentu kepada masyarakat lewat banyolan-banyolan yang halus dan lucu, agar tidak dirasakan sebagai suatu ejekan atau sindiran.

2. Sejarah Tari Topeng Betawi


Kesenian Tari Topeng Betawi mulai tumbuh sekitar abad ke-20. Karena tumbuhnya di daerah pinggiran Jakarta, tak heran jika tari topeng betawi ini dipengaruhi oleh kesenian Sunda. Saat itu masyarakat Betawi mengenal topeng melalui pertunjukan ngamen keliling kampung.

Pada awalnya pementasan atau pertunjukan topeng tidak menggunakan panggung tetapi hanya tanah biasa dengan properti lampu minyak bercabang tiga dan gerobak kostum yang diletakkan ditengah arena. Tahun 1970-an baru dilakukan di atas panggung dengan properti sebuah meja dan dua buah kursi.

3. Fungsi dan Makna Tari Topeng Betawi


Sebagaimana telah disinggung diatas, bahwa tari topeng selain sebagai media hiburan masyarakat adat Betawi yang tinggal di Jakarta, juga berfungsi sebagai kritik sosial maupun sebagai sarana dalam menyampaikan nasehat-nasehat tertentu kepada masyarakat lewat banyolan yang halus dan lucu, sehingga kritik tersebut tidak terasa sebagai sebuah ejekan atau sindiran.

4. Pertunjukan Tari Topeng Betawi


Pertunjukan kesenian topeng Betawi dengan tarian lazim disebut tari topeng Betawi. Merupakan salah satu jenis tarian tradisional masyarakat Betawi yang disebut juga Ronggeng Topeng. Tari Topeng Betawi terdiri dari beberapa jenis tari, yaitu Tari Lipet Gandes (merupakan sebuah tari yang dijalin dengan nyanyian, lawakan dan kadang-kadang dengan sindiran-sindiran tajam menggigit tetapi lucu), Tari Topeng Tunggal, Tari Enjot-enjotan, Tari Gregot, Tari Topeng Cantik, Tari Topeng putri, Tari Topeng Ekspresi, Tari Kang Aji, dan sebagainya. Pada perkembangannya, muncul Tari Topeng kreasi baru seperri Tari Ngarojeng, Tari Dagor Amprok, dan Tari Gitek Balen.


Pada pertunjukan seni Topeng Betawi, lazimnya didahului dengan lagu-lagu instrumental, kemudian menyusul Tari Kedok, yaitu Tari Ronggeng Topeng yang menggunakan tiga buah kedok secara bergantian. Dahulu tarian ini dilakukan pada penutup acara, tetapi sekarang dijadikan acara pertama.

Pertunjukan topeng betawi ini kemudian dilanjutkan dengan Tari Kembang Topeng yang selanjutnya dibarengi bodor dengan diiringi lagu Aileu, Lipet Gandes, Enjot-enjotan, dan lain sebagainya. Kemudian dilanjutkan dengan lakon pendek yang bersifat banyolan. Di antara banyolan-banyolan ini terdapat cerita Bapak Jantuk. Lakon-lakon pendek ini antara lain Benguk, Pucung, Lurah Karsih, Mursidin dari Pondok Pinang, Samiun Buang Anak dan Murtasik.

Pada perkembangan selanjutnya rombongan topeng juga membawakan lakon panjang untuk dimainkan semalam suntuk. Lakon panjang ini antara lain Jurjana, Dul Salam, Lurah Barni dari Rawa Katong, Asan Usin, Lurah Murja, Rojali AnemerKodok, Waru Doyong, Daan Dain, Kucing Item, Aki-aki Ganjen, dsb. Sebelum memulai pertunjukan Topeng, biasanya didahului dengan pembakaran kemenyan dan disediakan sesajen lengkap yang terdiri dari beras, kelapa muda, berbagai minuman, rujak tujuh macam, panggang ayam, telur ayam mentah, nasi dengan lauk-pauk, dan cerutu atau rokok 

5. Musik Pengiring Tari Topeng


Tari Tradisional Betawi yang dikenal dengan Tari Topeng atau Ronggeng Topeng ini ditampilkan dengan dilengkapi atau diiringi alat musik tradisional Betawi DKI Jakarta yaitu diantaranya gendang besar, kulanter, rebab, keromong berpencon tiga, kecrek, kempul, dan Gong Buyung.

Lagu yang dimainkan untuk mengiringi kesenian topeng betawi antara lain lagu Sunda Gunung namun khas daerah pinggir Jakarta seperti; Kang Aji, Enjat-enjatan, Ngelantang, atau Lipet Gandes. Dahulu terdapat sebutan bagi pecandu-pecandu Topeng Betawi yang ikut menari (ngibing) bersama Kembang Topeng, "buaya ngibing".

6. Kostum Penari Topeng Betawi


Tari Topeng atau Ronggeng Topeng dilakukan oleh penari atau pelakon pria dan wanita. Para pemain Topeng Betawi sebagian memakai pakaian khusus sesuai dengan peranannya namun ada sebagian lainnya yang memakai pakaian biasa yang dipakai sehari-hari. Bagi para pemain laki-laki unsur pakaian yang harus ada biasanya, kemeja putih, baju hitam, kaos oblong, celana, sarung, peci atau tutup kepala, serta kedok. Sedangkan untuk wanita unsur yang ada biasanya kain panjang atau kain batik, kebaya, selendang, "mahkota" warna-warni yang terletak di kepala yang biasanya disebut "kembang topeng". Selain itu ada bagian hiasan yang disebut ampak-ampak, andung, taka-taka, selendang (ampreng) yaitu semacam lidah pada bagian depan pinggang yang terbuat dari kain yang dihias, bagian ini biasanya di pakai oleh Topeng Kembang atau Ronggeng Topeng sebagai primadona tokoh yang menonjol. Sesuai dengan perannya, para pemain menggunakan pakaian yang khas.

7. Video Tari Topeng Betawi


Berikut ini salah satu contoh video tari topeng betawi yang ada di youtube.com



Demikian Sobat Tradisi, penjelasan mengenai kesenian dan tari tradisional dari Betawi DKI Jakarta yang dikenal dengan tari topeng betawi atau tari ronggeng topeng. Semoga bermanfaat.


Referensi :
  • http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/3343/Topeng-Betawi
  • http://www.tradisikita.my.id/2016/02/6-tari-tradisional-betawi-dki-jakarta.html

Gambang Kromong, musik tradisional Betawi

View Article
Gambang Kromong, musik tradisional Betawi | Adatnusantara - Gambang Kromong atau Gambang Keromong adalah sebuah orkes tradisional Betawi yang memadukan antara gamelan yang merupakan alat musik tradisional Indonesia, dengan alat musik Tionghoa (Sukong, Tehyan dan Kongahyan) dengan nada dasar pentatonis bercorak Cina. Musik Gambang Kromong yang populer pada tahun 1930-an ini memang erat dengan masyarakat Cina Betawi, terutama cina peranakan. Awal mula terbentuknya orkes gambang kromong ini tidak lepas dari seorang pemimpin komunitas Tionghoa yang diangkat Belanda (kapitan Cina) bernama Nie Hoe Kong (masa jabatan 1736-1740)



Disebut gambang kromong, karena dalam orkes Betawi ini menggunakan 2 buah alat musik yang bernama gambang dan kromong. Adapun alat musik yang digunakan dalam orkes gambang kromong ini selengkapnya adalah sebuah gambang kayu; seperangkat kromong; empat buah rebab Cina yang berbeda-beda ukurannya; alat petik berdawai disebut Sam Hian; sebuah bangsing bambu; dua buah alat jenis cengceng disebut ningnong; sepasang Pan, yakni dua potong kayu yang saling dilagakan untuk memberi maat (tempo).

Tangga nada yang dipergunakan dalam orkes Gambang Kromong, bukanlah slendro seperti laras gamelan Jawa, Sunda atau Bali, melainkan modus khas Cina, yang di negeri asalnya dahulu bernama tangga nada Tshi Che; seperti yang di dengar pada gambang.
Susunan belanga-belanga kromongnya adalah sebagai berikut :
(A) (G) (E) (D) (C)
(D) (E) (C) (G) (A)

Adapun yang disebut "rebab cina", yang berukuran paling besar dinamakan su kong, sesuai dengan laras dawai-dawainya, yang meniru nada su dan nada kong. Rebab dengan ukuran menengah disebut hoo siang, karena dawai-dawainya dilaras menurut nada hoo dan nada siang. Rebab yang paling kecil dinamakan kong a hian, sesuai dengan larasnya meniru bunyi nada-nada Cina. Rebab yang punya ukuran sedikit lebih besar dari kong a hian, ialah yang bernama tee hian, yang larasnya serupa dengan laras kong a hian.

Sam Hian adalah alat berdawai yang dimainkan dengan cara dipetik seperti memainkan gitar; dan alat tersebut pada orkes Gambang Kromong berfungsi  memainkan jalur melodi (nuclear melody). Ketiga dawainya dilaras dengan nama nada dengan notasi demikian, apabila orkes Gambang Kromong memainkan lagu-lagu khas Cina yang disebut Pat fem, maka dipergunakan pula tambahan alat tiup berupa serunai, yakni dai sosa dan cai di (siao sona).

Pada waktu pertama kali muncul di Betawi, orkes ini hanya bernama gambang. Sejak awal abad ke-20, mulai menggunakan instrumen tambahan, yaitu bonang atau kromong, sehingga orkes ini dinamakan Gambang Kromong. Pada masa itu hampir setiap daerah di Betawi memiliki orkes Gambang Kromong, bahkan tersebar sampai daerah Jatinegara, Karawang, Bekasi, Cibinong, Bogar, Sukabumi, Tangerang, dan Serang.



Gambang Kromong sebagai sekumpulan alat musik perpaduan yang harmonis antara unsur pribumi dengan unsur Cina. Orkes Gambang Kromong tidak terlepas dari jasa Nie Hoe Kong, seorang pemusik dan pemimpin golongan Cina pada pertengahan abad XVIII di Jakarta. Atas prakarsanyalah, penggabungan alat-alat musik yang biasa terdapat dalam gamelan (pelog dan selendro) digabungkan dengan alat-alat musik yang berasal dari Tiongkok. Pada masa-masa lalu, orkes Gambang Kromong hanya dimiliki oleh babah-babah peranakan yang tinggal di sekitar Tangerang, Bekasi, dan Jakarta. Di samping untuk mengiringi lagu, Gambang Kromong biasa dipergunakan untuk pengiring tari pergaulan yakni tari Cokek, tari pertunjukan kreasi baru dan teater Lenong.


Orkes gambang kromong merupakan perpaduan yang serasi antara unsur-unsur pribumi dengan unsur Tionghoa.Perpaduan kedua unsur kebudayaan tersebut tampak pula pada perbendaharaan lagu-lagunya. Di samping lagu-lagu yang menunjukkan sifat pribumi, seperti lagu-lagu Dalem (Klasik) berjudul: Centeh Manis Berdiri, Mas Nona, Gula Ganting, Semar Gunem, Gula Ganting, Tanjung Burung, Kula Nun Salah, dan Mawar Tumpah dan sebagainya, dan lagu-lagu Sayur (Pop) berjudul: Jali-jali, Stambul, Centeh Manis, Surilang, Persi, Balo-balo, Akang Haji, Renggong Buyut, Jepret Payung, Kramat Karem, Onde-onde, Gelatik Ngunguk, Lenggang Kangkung, Sirih Kuning dan sebagainya, terdapat pula lagu-lagu yang jelas bercorak Tionghoa, baik nama lagu, alur melodi maupun liriknya, seperti Kong Ji Liok, Sip Pat Mo, Poa Si Li Tan, Peh Pan Tau, Cit No Sha, Ma Cun Tay, Cu Te Pan, Cay Cu Teng, Cay Cu Siu, Lo Fuk Cen, dan sebagainy.



Akhir-akhir ini juga terdapat istilah "gambang kromong kombinasi". Gambang kromong kombinasi adalah orkes gambang kromong yang alat-alatnya ditambah atau dikombinasikan dengan alat-alat musik Barat modern seperti gitar melodis, bas, gitar, organ, saksofon, drum dan sebagainya, yang mengakibatkan terjadinya perubahan dari laras pentatonik menjadi diatonik tanpa terasa mengganggu. Hal tersebut tidak mengurangi kekhasan suara gambang kromong sendiri, dan lagu-lagu yang dimainkan berlangsung secara wajar dan tidak dipaksaka.

Demikian Sobat Tradisi, Informasi mengenai kesenian Gambang Kromong dari Betawi. Semoga bermanfaat.

Monday, 15 October 2018

Daftar Rumah Adat 34 Provinsi Lengkap

View Article
Daftar Rumah Adat 34 Provinsi Lengkap | Adatnusantara - Rumah adalah bangunan yang dijadikan tempat tinggal manusia dalam waktu tertentu. Dalam kehidupan modern rumah berfungsi sebagai tempat beristirahat setelah beraktivitas di Kantor, sekolah dan lain sebagainya. Selain itu rumah juga menjadi tempat interaksi antara anggota keluarga. Namun dizaman dahulu, rumah bisa menjadi tempat perlindungan dari berbagai ancaman manusia, baik dari binatang buas, musuh maupun dari bencana banjir misalnya. Oleh karena itu tidak heran jika rumah tradisional atau yang sering kita kenal sebagai rumah adat, memiliki bentuk yang bermacam-macam, disesuaikan dengan kondisi lingkungan, ada rumah panggung, rumah pohon dan lain sebagainya.

Selain memiliki kekayaan flora, fauna dan kekayaan alam lainnya, Indonesia juga kaya akan rumah adatnya. Dari 34 Provinsi di Indonesia, memiliki bermacam-macam rumah adat. Kali ini TradisiKita akan mencoba merangkum Rumah Adat dari 34 Provinsi di Indonesia. Adapun penjelasan dari masing-masing rumah adat 34 Provinsi tersebut dapat Sobat temukan pada tautan nama rumah masing-masing daerah.

DAFTAR RUMAH ADAT 34 PROVINSI LENGKAP


A. Daftar Rumah Adat dari Pulau Sumatera


1. Rumah Adat Nanggroe Aceh Darussalam - Rumoh Aceh / Rumah Krong Bade

Gambar Rumah Adat Aceh
2 . Rumah Adat Sumatera Utara : Rumah Bolon

Gambar Rumah Adat Sumatera Utara
3. Rumah Adat  Sumatera Barat : Rumah Gadang

Gambar Rumah Adat Sumatera Barat
4 Rumah Adat Riau terdiri dari :

  • Balai Salaso Jatuh  atau   Rumah Adat Selaso Jatuh Kembar
  • Rumah Melayu Atap Belah Bubung
  • Rumah Melayu Atap Lipat Kajang
  • Rumah Melayu Atap Lontik

rumah adat di Indonesia
Gambar Rumah Adat Riau
5. Rumah Adat Kepulaua Riau : Rumah Melayu Atap Limas Potong

rumah adat di Indonesia
Gambar Rumah Adat Kepulauan Riau
6. Rumah Adat Jambi : Rumah Panggung

 rumah adat di Indonesia
Gambar Rumah Adat Jambi
7. Rumah Adat Bengkulu : Rumah Bubungan Lima

rumah adat di Indonesia
Gambar Rumah Adat Bengkulu
8. Rumah Adat Sumatera Selatan : Rumah Limas

 rumah adat di Indonesia
Gambar Rumah Adat Sumatera Selatan
9.  Rumah Adat Bangka Belitung : Rumah Panggung, Rumah Rakit, Rumah Limas

 rumah adat di Indonesia
Gambar Rumah Adat Bangka Belitung
10. Rumah Adat Lampung : Nuwou Sesat

rumah adat di Indonesia
Gambar Rumah Adat Lampung

B. Daftar Rumah Adat Pulau Jawa

11. Rumah Adat Jawa Barat : Rumah Kasepuhan

 rumah adat di Indonesia
Gambar Rumah Adat Jawa Barat
12. Rumah Adat Banten : Rumah/Imah

rumah adat di indonesia
Gambar Rumah Adat Banten

13. Rumah Adat DKI Jakarta terdiri dari :


  • Rumah Kebaya
  • Rumah Gudang

 rumah adat di Indonesia
Gambar Rumah Adat Jakarta

14. Rumah Adat Jawa Tengah : Rumah Joglo

 rumah adat di Indonesia
Gambar Rumah Adat Jawa Tengah
15. Rumah Adat D.I. Yogyakarta : Rumah Joglo

 rumah adat di Indonesia
Gambar Rumah Adat Yogyakarta
16. Rumah Adat Jawa Timur : Rumah Joglo

rumah adat di indonesia
Gambar Rumah Adat Jawa Timur

Daftar Rumah Adat Pulau Kalimantan

17. Rumah Adat Kalimantan Barat : Rumah Panjang

rumah adat di Indonesia
Gambar Rumah Adat Kalimantan Barat
18. Kalimantan Tengah : Rumah Betang

rumah adat di Indonesia
Gambar Rumah Adat Kalimantan Tengah
19. Rumah Adat Kalimantan Utara : Rumah Baloy

 rumah adat di Indonesia
Gambar Rumah Adat Kalimantan Utara
20. Rumah Adat Kalimantan Timur : Rumah Lamin

rumah adat di Indonesia
Gambar Rumah Adat Kalimantan Timur
21. Rumah Adat Kalimantan Selatan : Rumah Banjar

rumah adat di indonesia
Gambar Rumah Adat Kalimantan Selatan

Daftar Rumah Adat Pulau Bali

22. Rumah Adat Bali : Gapura Candi Bentar

rumah adat di Indonesia
Gambar Rumah Adat Bali

Daftar Rumah Adat Pulau Sulawesi

23. Rumah Adat Sulawesi Utara : Rumah Pewaris

rumah adat di Indonesia
Gambar Rumah Adat Sulawesi Utara
24. Rumah Adat Gorontalo : Rumah Adat Doloupa

rumah adat di Indonesia
Gambar Rumah Adat Gorontalo
25. Rumah Adat Sulawesi Tengah : Souraja atau Rumah Raja atau Rumah Besar

rumah adat di indonesia
Gambar Rumah Adat Sulawesi Tengah
26. Rumah Adat Sulawesi Barat : Banua Layuk

rumah adat di Indonesia
Gambar Rumah Adat Sulawesi Barat
27. Rumah Adat  Sulawesi Selatan : Rumah Adat Tongkonan

rumah adat di Indonesia
Gambar Rumah Adat Sulawesi Selatan
28. Rumah Adat  Sulawesi Tenggara : Laikas

 rumah adat di Indonesia
Gambar Rumah Adat Sulawesi Tenggara

Daftar Rumah Adat Pulau Nusa Tenggara

29. Rumah Adat Nusa Tenggara Barat : Dalam Loka Samawa

 rumah adat di Indonesia
Gambar Rumah Adat Nusa Tenggara Barat
30. Rumah Adat Nusa Tenggara Timur : Sao Ata Mosa Lakitana

rumah adat di indonesia
Gambar Rumah Adat Nusa Tenggara Timur

Daftar Rumah Adat Pulau Maluku

31. Rumah Adat Maluku : Rumah Baileo

 rumah adat di Indonesia
Gambar Rumah Adat Maluku
32. Rumah Adat MalukuUtara : Rumah Baileo

rumah adat di Indonesia
Gambar Rumah Adat Maluku Utara

Daftar Rumah Adat Pulau Irian

33. Rumah Adat Papua Barat : Honai

rumah adat di Indonesia
Gambar Rumah Adat Papua Barat
34. Papua / Irian Jaya terdiri dari :

  • Honai, 
  • Rumah Pohon

rumah adat di Indonesia
Gambar Rumah Adat Papua

Demikian Sobat Tradisi, Daftar Rumah Adat 34 rovinsi Lengkap yang bisa kami sampaikan kepada Sobat, semoga bermanfaat dan kami akan selalu update informasi tersebut.

Lirik Lagu Jambi : Serampang Laut

View Article
Judul Lagu : Serampang Laut
Lagu Daerah : Jambi 
Pencipta : NN

Gesek lah piul sirampang laut
Diiring joget budayo lamo
Hati bukendak nyebut payah nak nyebut sayang
Dapek ditahan jugo ngan tahan jugo

Kau bunyani mirupo demam
Kalu yo demam mano pucatnyo
Hati wak rindu pendam jangan dipendam sayang
Kalu dipendam sakit bengat lah sakitnyo

Ngan lah keno nan sampu gadih
Itu penyakit ngan idap kini
Nyampang ka ilang kain jangan nak mengih sayang
Itulah ubat sampu kato dukun sari

Kau bucakap nan padek bae
Sanggup meruntuh gunung nan tinggi
Ilanglah kain bae biaso bae sayang
Asal jangan ilang sijantung hati

Tiap lah pagi ku makan ubat
Ubat ku pintak didukun sari
Kalu dak jinak pikat burung ku pikat sayang
Kubujuk-bujuk lari ku bao lari

Tak kuretak pat kalipat
Itu penangkal ilmu kau
Bukannyo burung pikat takut dipikat sayang
Pikat tu nian mau langidaklah mau


Legenda Batu Tobat, Riau

View Article
Legenda Batu Tobat, Riau | Adatnusantara - Di hulu sungai Batang Gansal yang berada di Desa Rantau Langsat Kecamatan Batang Gansal Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau, terdapat beberapa batu besar yang berada di tengah sungai yang disebut dengan “Batu Tobat”. Nama tersebut diambil dari bahasa masyarakat sekitar, Tobat berarti Penghalang.

Bagi Sobat Tradisi yang berkunjung ke Desa Rantau Langsat bisa melihat Batu Tobat ini menggunakan boat sungai ditempuh sekitar 1 jam perjalanan. Menyusuri sungai sambil menikmati keindahan alam yang masih alami di kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh membuat perjalanan Sobat semakin dekat dan lebih mengenal pesona alam hutan Riau.


Sebelum menikmati indahnya pemandangan alam Riau tersebut, TradisiKita akan sedikit cerita mengenai keberadaan atau asal usul batu tobat yang memiliki legenda atau cerita rakyat. Batu Tobat merupakan susunan batu besar yang terdapat ditengah sungai yang menghalangi lajunya arus sungai yang mengalir. Konon ceritanya Batu Tobat terjadi karena perebutan wilayah antara tujuh bersaudara yang dikenal Siklambai dengan dua orang datuk yang bernama Datuk Kuntum dan Datuk Reges.

Tingkah laku Siklambai yang sering merusak hutan dengan kekuatan dahsyat mampu menebas pohon besar dengan tangannya, membuang batu raksasa yang berada di atas bukit ke sungai hanya dengan tendangan kaki.

Karena perilaku mereka yang keterlaluan sehingga berdampak pada masyarakat yang berada di hilir sungai. Air sungai yang mengalir ke hilir menjadi kecil dan tidak banyak ikan yang didapat masyarakat membuat masyarakat mengeluh dan melaporkan kepada Datuk selaku pemimpin mereka pada saat itu.

Akhirnya Datuk Kuntum dan Datuk Reges sepakat pergi ke hulu sungai untuk menelusuri apa yang menjadi penyebab air sungai yang mengalir menjadi kecil di bagian hilir. Setibanya mereka di hulu sungai mereka menemukan batu-batu besar dari bukit berada ditengah sungai.

Mereka berfikir tidak masuk akal kenapa batu sebesar pondok/rumah bisa berada di sungai padahal tidak terjadi longsor. Mereka pun bergegas pergi ke atas bukit dan terkejut melihat tujuh orang yang tengah asik mengangkat batu raksasa seperti sebuah bola lalu membuang ke tengah sungai.

Ternyata tujuh orang itu adalah Siklambai yang dikenal dengan tingkah laku yang jahat. Siklambai sengaja membuang batu ke sungai agar ikan tertahan tidak lepas hingga ke hilir yang membuat mereka untung banyak memperoleh ikan.

Apa daya Datuk Kuntum dan Datuk Reges untuk melawan ke tujuh bersaudara dengan kekuatan yang luar biasa hebat. Ketika Siklambai beristirahat, Datuk Kuntum dan Datuk Reges melihat salah satu dari Siklambai mengambil sebuah botol dengan cairan emas kemudian dioles ke tangan dan kaki mereka sehingga mereka menjadi kuat.

Rupanya cairan emas pada botol tersebut yang membuat Siklambai dengan mudahnya mengangkat batu besar dan menebas pohon dengan tangan. Ketika Siklambai tengah asik menebas pohon besar, Datuk Kuntum dan Datuk Reges segera mengambil botol cairan emas dan mengoleskan ke seluruh tubuh hingga cairan emas itu habis tak tersisa.

Terkejut melihat ada orang yang mengambil botol tersebut membuat Siklambai 7 bersaudara sangat murka dan terjadilah pertengkaran hebat antara Siklambai dengan Datuk Kuntum dan Datuk Reges.

Pertengkaran tersebut berlangsung selama satu hari satu malam hingga olesan cairan emas pada Siklambai akhirnya habis membuat mereka kalah dan mati dibunuh oleh Datuk Kuntum dan Datuk Reges.

Setelah pertengkaran hebat selesai, Datuk Kuntum dan Datuk Reges segera memindahkan kembali batu-batu besar di sungai ke atas bukit. Tidak semua batu dapat dipindahkan setelah cairan emas pada tubuh Datuk Kuntum dan Datuk Reges akhirnya habis.

Seperti itu lah cerita rakyat yang di yakini sebagai awal peradaban dan kehidupan di desa Rantau Langsat Kabupaten Indragiri Hulu. Tiap cerita rakyat atau legenda memiliki pesan tersirat yang bisa kita ambil hikmahnya.


Sisa batu besar di sungai masih ada hingga kini tepatnya di bagian hulu Sungai Batang Gansal. Desa Rantau Langsat berada di Kabupaten Indragiri Hulu dengan waktu tempuh sekitar 5 jam dari Kota Pekanbaru.

Sunday, 14 October 2018

Tari Topeng Cirebon Artikel Lengkap

View Article
Tari Topeng Cirebon | Adatnusantara - Tari Topeng Cirebon merupakan salah satu tarian asli daerah Cirebon yang berasal dari wilayah Kesultanan Cirebon. Tari Topeng Cirebon juga termasuk dapat ditemukan di daerah - daerah Subang, Indramayu, Jatibarang, Majalengka, Losari dan Brebes. Pada artikel kali ini, TradisiKita akan menyajikan informasi mengenai seluk beluk tari Topeng Cirebon mulai dari sejarah tari topeng Cirebon, fungsi dan makna tari topeng Cirebon, pertunjukan tari topeng Cirebon, kostum penari dan musik pengiring tari topeng Cirebon serta video tari topeng Cirebon yang akan menambah kecintaan Sobat Tradisi akan kekayaan budaya Bangsa Indonesia.



Menurut pendapat salah seorang seniman dari ujung gebang-Susukan-Cirebon, Marsita, kata topeng berasal dari kata” Taweng” yang berarti tertutup atau menutupi. Sedangkan menurut pendapat umum, istilah kata topeng mengandung pengertian sebagai penutup muka / kedok. Berdasarkan asal katanya tersebut, maka tari topeng pada dasarnya merupakan seni tari tradisional masyarakat Cirebon yang secara spesifik menonjolkan penggunaan penutup muka berupa topeng atau kedok oleh para penari pada waktu pementasannya.

1. Tentang Tari Topeng Cirebon



Kesenian topeng Cirebon merupakan penjabaran dari cerita Panji dimana dalam satu kelompok kesenian topeng terdiri dari dalang (yang menarasikan kisahnya) dan enam orang pemuda yang mementaskannya diiringi oleh empat orang musisi gamelan atau dalam bahasa Cirebon disebut dengan Wiyaga. Hal ini diungkapkan oleh Thomas Stamford Raffles dalam bukunya The History of Java


2. Sejarah Tari Topeng Cirebon

Menurut cerita rakyat yang berkembang Tari Topeng diciptakan oleh sultan Cirebon yang cukup terkenal, yaitu Sunan Gunung Jati. Ketika Sunan Gunung Jati berkuasa di Cirebon, terjadilah serangan oleh Pangeran Welang dari Karawang. Pangeran ini sangat sakti karena memiliki pedang yang diberi nama Curug Sewu. Melihat kesaktian sang pangeran tersebut, Sunan Gunung Jati tidak bisa menandinginya walaupun telah dibantu oleh Sunan Kalijaga dan Pangeran Cakrabuana. Akhirnya sultan Cirebon memutuskan untuk melawan kesaktian Pangeran Welang itu dengan cara diplomasi kesenian. Berawal dari keputusan itulah kemudian terbentuk kelompok tari, dengan Nyi Mas Gandasari sebagai penarinya. Setelah kesenian itu terkenal, akhirnya Pangeran Welang jatuh cinta pada penari itu, dan menyerahkan pedang Curug Sewu itu sebagai pertanda cintanya. Bersamaan dengan penyerahan pedang itulah, akhirnya Pangeran Welang kehilangan kesaktiannya dan kemudian menyerah pada Sunan Gunung Jati. Pangeran itupun berjanji akan menjadi pengikut setia Sunan Gunung Jati yang ditandai dengan bergantinya nama Pangeran Welang menjadi Pangeran Graksan. Seiring dengan berjalannya waktu, tarian inipun kemudian lebih dikenal dengan nama Tari Topeng dan masih berkembang hingga sekarang. Selain sebagai media hiburan, tarian ini juga pernah dijadikan sebagai media komunikasi dakwah Islam di Cirebon pada zaman dulu.

3. Fungsi dan Makna Tari Topeng Cirebon

Unsur-unsur yang terdapat dalam seni tari topeng Cirebon mempunyai arti simbolik dan penuh pesan-pesan terselubung, baik dari jumlah topeng, warna topeng, jumlah gamelan pengiring dan lain sebagainya. Hal tersebut merupakan upaya para Wali dalam menyebarkan agama Islam dengan menggunakann kesenian Tari Topeng setelah media dakwah kurang mendapat respon dari masyarakat pada masa itu.

Jumlah Topeng / Kedok seluruhnya ada 9 (sembilan ) buah, yaitu : Panji, Samba atau Pamindo, Rumyang, Tumenggung atau Patih, Kelana atau Rahwana, Pentul, Nyo atau Semblep, Jinggananom dan Aki –aki. Dari kesembilan Topeng / Kedok tersebut yang dijadikan sebagai Kedok pokok hanya 5 (lima ) buah. Kelima karakter pokok topeng yang berbeda yaitu :


  1. Topeng Panji. Digambarkan sebagai sosok manusia yang baru lahir, penuh dengan kesucian, gerakannya halus dan lembut. Tarian ini bagi beberapa pengamat tarian merupakan gabungan dari hakiki gerak dan hakiki diam dalam sebuah filosofi tarian.
  2. Topeng Samba, menggambarkan fase ketika manusia mulai memasuki dunia kanak-kanak, digambarkan dengan gerakan yang luwes, lincah dan lucu.
  3. Topeng Rumyang merupakan gambaran dari fase kehidupan remaja pada masa akhil balig
  4. Topeng Tumenggung, gambaran dari kedewasaan seorang manusia, penuh dengan kebijaksanaan layaknya sosok prajurit yang tegas, penuh dedikasi, dan loyalitas seperti pahlawan
  5. Topeng Kelana/Rahwana merupakan visualisasi dari watak manusia yang serakah, penuh amarah, dan ambisi. Sifat inilah yang merupakan sisi lain dari diri manusia, sisi “gelap” yang pasti ada dalam diri manusia. Gerakan topeng Kelana begitu tegas, penuh dengan ambisi layaknya sosok raja yang haus ambisi duniawi.


Kelima karakter tari topeng Cirebon bila dikaitkan dengan pendekatan ajaran agama Islam dapat dijelaskan sebagai berikut


  1. Topeng Panji merupakan akronim dari kata MAPAN ning kang SIJI, artinya tetap kepada satu yang Esa atau dengan kata lain Tiada Tuhan selain Allah SWT.
  2. Topeng Samba Berasal dari kata SAMBANG atau SABAN yang artinya setiap. Maknanya bahwa setiap waktu kita diwajibkan mengerjakan segala Perintah- NYA.
  3. Topeng Rumyang. Berasal dari kata Arum / Harum dan Yang / Hyang (Tuhan). Maknanya bahwa kita senantiasa mengharumkan nama Tuhan yaitu dengan Do’a dan dzikir
  4. Topeng Temenggung. Memberikan kebaikan kapada sesama manusia, saling menghormati dan senantiasa mengembangkan silih Asah, Silih Asih dan Silih Asuh
  5. Topeng Klana. Kelana artinya Kembara atau Mencari. Bahwa dalam hidup ini kita wajib berikhtiar.


Tari Topeng Cirebon memang difungsikan oleh Sultan Cirebon Syekh Syarif Hidayatullah atau yang lebih dikenal dengan gelar Sunan Gunung Jati sebagai alat dakwah untuk menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Cirebon pada awal perkembangan Islam di Cirebon, sehingga karakter dan gerakan setiap topeng memiliki nilai filsafat yang menggambarkan kebijaksanaan, kepemimpinan, cinta bahkan angkara murka serta menggambarkan perjalanan hidup manusia sejak lahir hingga dewasa.



4. Pertunjukan Tari Topeng Cirebon

Pada zaman dahulu Tari Topeng Cirebon biasanya dipentaskan menggunakan tempat pagelaran yang terbuka berbentuk setengah lingkaran, seperti di halaman rumah, di blandongan (bahasa Indonesia : tenda pesta) atau di bale (bahasa Indonesia : panggung). Pagelaran Kesenian Tari Topeng Cirebon ini dilengkapi dengan obor sebagai penerangannya. Seiring berkembangnya zaman dan teknologi, tari Topeng Cirebon pada masa modern  dipertunjukan didalam gedung dengan lampu listrik sebagai tata cahayanya.

Struktur pagelaran dalam tari Topeng Cirebon bergantung pada kemampuan rombogan, fasilitas gong yang tersedia, jenis penyajian topeng dan lakon (bahasa Indonesia : cerita) yang dibawakannya. Secara umum, struktur pertunjukan tari Topeng Cirebon dapat dibedakan kedalam dua jenis yaitu :

  • Topeng alit, memiliki struktur yang minimalis baik dari segi dalang, peralatan, kru dan sajiannya. Jumlah rata-rata kru dalam struktur pagelaran topeng alit biasanya hanya terdiri dari lima sampai tujuh orang yang kesemuanya bersifat multi peran, dalam artian tidak hanya seorang dalang Topeng saja yang membawakan babak topeng, namun para wiyaganya juga ikut membantu dengan memberikan guyonan-guyonan ringan. Dialog dalam topeng alit dilakukan secara spontan berdasarkan situasi yang ada.
  • Topeng gede, memiliki struktur yang lebih besar dan baku jika dibandingkan dari penyajian topeng alit. Hal tersebut dikarenakan topeng gede merupakan bentuk penyempurnaan dari topeng alit, struktur topeng besar diantaranya, adanya musik pengiring (bahasa Cirebon : tetaluan) yang lengkap, adanya lima babak tarian yang berurutan seperti panji, samba, rumyang, tumenggung dan klana, adanya lakonan serta jantuk (bahasa Indonesia : nasihat) yang diberikan pada akhir pagelaran topeng gede



5. Musik Pengiring Tari Topeng Cirebon

Tari topeng selalu dipentaskan dengan diiringi oleh alat musik tradisional Jawa Barat dan seorang Sinden. Adapun alat musik tradisional yang digunakan antara lain rebab, kecrek, kulanter, ketuk, gendang, gong, dan bendhe. Namun demikian, musik pengiring tari Cirebon ini berbeda-beda masing-masing daerahnya. Musik pengiring tari Topeng Cirebon yang terdapat di wilayah kabupaten Cirebon dan kabupaten Indramayu menggunakan instrumen musik bernuansa khas Cirebonan seperti Gamelan Cirebon dan sejenisnya. Pada tari Topeng Cirebon gaya Cipunegara, musik pengiringnya justru menggunakan musik-musik Bajidoran yang merupakan seni khas kebudayaan Sunda di kabupaten Subang dan kabupaten Karawang.


6. Kostum Penari Topeng Cirebon

Penari Topeng Cirebon menggunakan pakaian tradisional khas Cirebon Jawa Barat, busana yang dipakai tersebut berupa toka-toka, apok, kebaya, sinjang, dan ampreng yang pada umumnya berwarna kuning, hijau, dan merah sesuai dengan karakter / topeng yang dikenakan.

Tari Topeng Cirebon | Gambar : sebandung.com

7. Perkembangan Tari Topeng Cirebon

Kesenian Tari Topeng ini masih eksis dipelajari di sanggar-sanggar tari yang ada, dan masih sering dipentaskan pada acara-acara resmi daerah, ataupun pada momen tradisional daerah lainnya. Salah satu maestro tari topeng adalah Mimi Rasinah, yang aktif menari dan mengajarkan kesenian Tari Topeng di sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah yang terletak di desa Pekandangan, Indramayu, Indramayu. Sejak tahun 2006 Mimi Rasinah menderita lumpuh, namun ia masih tetap bersemangat untuk berpentas, menari dan mengajarkan tari topeng hingga akhir hayatnya, Mimi Rasinah wafat pada bulan Agustus 2010 pada usia 80 tahun

8. Video Tari Topeng Cirebon

Berikut video tari topeng Cirebon Kelana :


Demikian Sobat Tradisi, informasi singkat mengenai Tari Topeng Cirebon Jawa Barat.

Referensi :

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Tari_Topeng_Cirebon
  2. https://guruipsgempol1.wordpress.com/2012/03/27/tari-topeng-cirebon/
  3. http://www.academia.edu/6002490/Sejarah_Tari_Topeng_Cirebon

Lirik Lagu Jambi : Orang Kayo Hitam

View Article

Julu Lagu : Orang Kayo Hitam
Lagu Daerah : Jambi
Pencipta : Firdaus Chatab


Lirik Lagu : Orang Kayo Hitam

Rang Kayo Hitam, gagah perkaso
Namonyo agung dimano-mano
Sampai Mataram orang kenali
Pusako bundo di Batang Hari

Ayah bernamo Datuk Berhalo
Turunan suci asal Bagindo
Putri Pinang Masak namo ibunyo
Dari Pagaruyung negeri asalnyo

Reff:
Sutooo
Orang Kayo Hitam agung di mano-mano
Keris Si Ginjai senjato yang utamo

Rangkaio pingai dulur yang tuo
Yang bijaksano mimpin negeri
Ke dataran lamo dulur yang mudo
Gunung balangsebo diuji kenari

Mayang mengurai istri setia
Anak Tumenggung merah melato
Meriam sejiwa penjelmaannyo

Sutooo


Video lagu Orang Kayo Hitam