Friday, 7 September 2018

Tari Sigeh Penguten, Tradisi Penyambutan Tamu Agung dari Lampung

Tari Sigeh Penguten merupakan tarian adat lampung yang berasal dari suku Pepadun. Tarian ini di persembahkan  untuk menyambut kedatangan para raja dan tamu-tamu istimewa. Sebagai cara menunjukan keramahan dan penghormatan dalam menyambut tamu. Karena hal inilah maka kemudian tari sembah sigeh penguten identik sebagai tari penyambutan. Selain itu tarian ini  juga dipertunjukkan dalam upacara adat pernikahan masyarakat Lampung sebagai hiburan.

Daftar Isi Tari Sigeh Penguten
1. Sejarah Tari Sigeh Penguten
2. Perkembangan Tari Sigeh Penguten
3. Fungsi dan Makna Tari Sigeh Penguten
4. Pertunjukan Tari Sigeh Penguten
5. Busana dan Atribut Penari Sigeh Penguten
6. Gerak Tari Sigeh Penguten
7. Musik Pengiring Tari Sigeh Penguten
8. Video Tari Sigeh Penguten

Tari Sigeh Penguten berasal dari Provinsi Lampung, merupakan salah satu tari pelengkap ritual.  Tari Sigeh Penguten merupakan tari kelompok putri yang penarinya berjumlah ganjil (5,7,9 dan seterusnya). Selain jumlah penari, ada aspek lain yang menjadi ciri utama tari ini yang tidak terdapat pada tari-tari tradisi lainnya yang ada di daerah Lampung yaitu properti tepak. Tepak adalah kotak berwarna keemasan yang dibawa oleh salah seorang penari yang posisinya berada paling depan. Properti ini berisi daun sirih yang akan diberikan pada salah seorang tamu yang dianggap mewakili seluruh tamu yang hadir. Salah satu acara yang sering menampilkan tari Sigeh Penguten adalah resepsi perkawinan.
Tari Sigeh Penguten
Tari Sigeh Penguten


1 Sejarah Tari Sigeh Pengunten

Mengenai sejarah Tari Sigeh Penguten atau asal usul tari sigeh pengunten ini memiliki beberapa versi. Hilman Hadikusuma dalam sebuah buku yang berjudul Masyarakat dan Adat Istiadat Lampung  mengatakan, bahwa tarian ini dipengaruhi oleh tari Gendhing Sriwijaya yang berasal dari Sumatera Selatan.

Versi lain menyatakan bahwa tari sigeh penguten ini diilhami oleh tari yang bernama tari tepak yang berasal dari Mesuji Wiralaga. Mesuji Wiralaga adalah suatu wilayah yang terletak di sebelah utara propinsi Lampung, berbatasan dengan propinsi Sumatera Selatan. Pada saat itu daerah ini dipimpin oleh seorang pesirah yang bernama Pangeran Muhammad Ali. Di wilayah ini terdapat tari penyambutan yang disebut tari Tepak. Tari Tepak ini konon yang menarikan adalah keluarga-keluarga dari Pangeran Muhammad Ali. Penyajian tari ini diselenggarakan pada upacara perkawinan adat, pengangkatan seorang pesirah, dan penyambutan tamu. Tari Tepak ini kemudian dikenal sebagai tari Sembah (Sigeh Penguten).

2. Perkembangan Tari Sigeh Penguten

Sebelum mengalami pembakuan, penyajian tari ini belum begitu menampakan ciri khas daerah Lampung. Baru kemudian pada tahun 1989 diadakan pertemuan seluruh ketua adat yang ada di daerah lampung. Pertemuan yang dilaksanakan di Gedung Wanita di daerah Durian Payung Bandar Lampung ini bertujuan untuk membentuk identitas budaya masyarakat Lampung. Saat itu tari Sigeh Penguten sudah ada, namun baik kostum dan iringannya belum diseragamkan.

Pertemuan tersebut akhirnya mencapai kesepakatan, bahwa tari Sigeh Penguten merupakan identitas budaya masyarakat Lampung. Kesepakatan lain yang dicapai adalah mengenai kostum yaitu baju kurung berwarna putih. Kain tapis sebagai salah satu ciri daerah Lampung tetap digunakan. Properti utama yang digunakan adalah sigeh (sirih) dan penguten (tepak). Hal ini menunjukkan bahwa budaya menginang di kalangan masyarakat Lampung sangat kental.

Gerak-gerak yang ada pada tari Sigeh Penguten kemudian dibakukan dengan tidak menghilangkan gerak-gerak sebelumnya. Hal ini bertujuan untuk menyeragamkan bentuk agar tidak ada perbedaan apabila seseorang melihat tari Sigeh Penguten di wilayah satu dan yang lainnyadi Propinsi Lampung.

3. Fungsi  dan Makna Tari Sigeh Penguten

Tari ini mempunyai fungsi sebagai tari pembuka, ucapan selamat datang, dan terima kasih dari tuan rumah kepada tamu yang hadir pada acara yang diselenggarakannya.

Tari Sigeh Pengunten memiliki makna yang sangat simbolis, baik dilihat dari busana, irama maupun gerakan tari sigah penguten ini.

Salah satu makna simbolik yang ada pada Tari Sigeh Penguten ini adalah melalui penggunaan siger. Siger bukanlah mahkota biasa. Saat ini Siger direpresentasikan sebagai lambang feminisme dan kejayaan perempuan. Meskipun masyarakat Lampung menganut sistem kekerabatan Patrilineal, akan tetapi masyarakat Lampung sangat menghargai status seorang perempuan. Perempuan memiliki peran penting dalam mengatur laju rumah tangga. Perempuan dikenal dengan konsistensi dan kegigihannya yang pantang menyerah dan ulet dalam bekerja. Perempuan adalah sumber inspirasi dan kekuatan dari lelaki.

Selain itu, simbolisasi Siger ini juga berhubungan dengan nilai religius Islam yakni lelaki yang bertugas sebagai pemimpin rumah tangga dan perempuanlah yang mengorganisir/memanajemen kehidupan rumah tangganya tersebut. Hal ini juga mengisyaratkan pesan bahwa kehidupan rumah tangga itu harus dijalani dengan penuh keseimbangan.

Makna simbolik juga bisa kita perhatikan dari warna yang terdapat pada pakaian penari didominasi oleh warna keemasan. Warna keemasan dipersonfikasikan sebagai warna kemewahan, keanggunan, dan kecantikan. Hal ini sesuai dengan sifat Tari Sigeh Pengunten yang menampilkan kesan keanggunan dan lemah gemulai. Selain itu pemilihan warna make-up yang dipakai oleh para penari didominasi oleh warna  merah. Warna merah tersebut memberikan kesan keceriaan bagi para penari, karena tari Sigeh Pengunten ini melambangkan keterbukaan dan keramahtamahan masyarakat Lampung terhadap tamu yang datang.

Dari aspek irama Tari Sigeh Pengunten memiliki falsafah yang menarik untuk diketahui. Irama tabuhan gupek dan cetik. Gupek melambangkan semangat kebersamaan, solidaritas, dan gotong royong. Hal ini tergambarkan dari semangat tamu undangan dalam acara adat tersebut untuk membina semangat kebersamaan, solidaritas, dan gotong royong. Sedangkan cetik merefleksikan keagungan dan kesucian. Keagungan dan kesucian ini terlihat dari suasana para tamu undangan yang menghargai dan menghormati jalannya acara tersebut.

Hal yang paling substansif dalam Tari Sigeh Pengunten ini adalah bahwa Tari Sigeh Pengunten menjunjung tinggi falsafah masyarakat Lampung. Falsafah ini adalah nilai-nilai yang dijadikan pedoman dan panduan masyarakat Lampung serta senantiasa dipegang teguh oleh mereka. Nilai-nilai tersebut dikenal dengan Pili Pesenggiri. Pili Pesenggiri adalah sikap hidup dan nilai-nilai yang dijadikan fondasi bagi masyarakat Lampung. Esensi Pili Pesenggiri terlihat jelas dalam tari Sigeh Pengunten ini. Beberapa prinisp dalam Pili Pesenggiri adalah

  1. Nengah nyappur (hidup bermasyarakat, membuka diri dalam pergaulan):
  2. Nemui nyimah (terbuka tangan, murah hati dan ramah pada semua orang)
  3. Berjuluk Beadek (bernama, bergelar, saling menghormati) 
  4. Sakai Sambayan (gotong royong, tolong menolong)


Dua prinsip dalam Pili Pesenggiri menjadi memiliki korelasi dengan makna tarian Sigeh Pengunten. Yang pertama adalah Nengah nyappur, prinisip ini menjelaskan bahwa masyarakat Lampung adalah masyarakat yang mau bersosialisasi/hidup bermasyarakat, membuka diri terhadap lingkungan baru serta beradaptasi dengan hal-hal yang baru. Hal ini sangat relevan dengan makna tari Sigeh Pengunten yang menunjukan sikap keterbukaan dalam menerima tamu yang datang. Hal ini menggambarkan bahwa masyarakat Lampung ingin mengenal berbagai keanekaragaman budaya.

Prinsip kedua yang sinkron dengan makna tari Sigeh Pengunten ini adalah Nemui nyimah. Maksud dari prinsip ini adalah bahwa masyarakat Lampung memiliki sikap terbuka, murah hati, dan ramah terhadap semua orang. Esensi ini diimplementasikan dalam tari Sigeh Pengunten yang ditujukan untuk menyambut tamu sambil memberikan persembahan sekapur sirih. Hal ini merefleksikan betapa masyarakat Lampung sangat apresiatif dan terbuka untuk mengenal budaya lain serta menunjukan keramahannya sebagai tuan rumah yang menyambut.

Dua prinisp tersebut merupakan korelasi nyata bahwa seni, budaya, dan kehidupan saling berkaitan satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan. Seni bukan hanya sekedar perlambangan estetika dan kesempurnaan. Seni adalah sarana untuk mengeksplorasi berbagai nilai-nilai kehidupan yang patut kita aplikasikan dalam bersikap dan bertindak di lingkungan masyarakat.

 

4. Pertunjukan Tari Sigeh Penguten

Tari Sigeh Pengunten ini ditampilkan oleh para penari putri yang berjumlah ganjil (5,7,9 dan seterusnya), jumlah minimalnya adalah lima orang. Meskipun terdapat ketentuan bahwa yang menampilkan tarian ini harus berjumlah ganjil, tetapi tidak ada makna khusus dibalik jumlah ganjil itu. Jumlah ganjil tersebut hanya untuk keperluan komposisi pemainnya. Dalam tarian ini, formasi penari akan menghadap sudut ke depan. Setiap penari memiliki perannya masing-masing. Dalam Tari Sigeh Pengunten ini ada yang berperan menjadi ratu. Posisi ratu berada harus berada di depan dan ratu akan diiringi oleh para pengikutnya. Para penari Sigeh Pengunten menggunakan pakaian tradisional khas Lampung. Tentunya mereka menunjukan karakteristik mereka sebagai masyarakat Lampung dengan pakaian adat yang mereka kenakan.

 

5. Busana dan Atribut Penari Sembah Sigeh Penguten

Tari sembah Sigeh Penguten merupakan tari adat tradisional lampung yang di segala aspek menonjolkan seni budaya lampung. Terutama pada busana dan atribut yang dikenakannya ada ciri lampung yang khas. Seperti siger dan tanggai ataupun kain tapis yang dikenakan para penari. Semua khas lampung.

Busana dan atribut yang dikenakan oleh para penari tari sembah sigeh penguten antara lain adalah:

1. Busana yang dikenakan oleh para penari tari sembah sigeh penguten terdiri dari:
  • Sesapur adalah baju kurung bewarna putih atau baju yang tidak berangkai pada sisinya namun pada sisi bagian bawah terdapat hiasan berbentuk koin berwarna perak atau emas yang digantung secara berangkai (rumbai ringgit). Baju ini digunakan sebagai baju atasan para penari.
  • Kain tapis adalah kain tenun tradisional lampung yang terbuat dari bahan katun bersulam emas dengan motif tumpal atau pucuk rebung. Kain tapis bermotif sepeti ini biasanya disebut dengan nama kain tapis Dewasana (Dewo sanaw). Kain tapis ini biasanya di gunakan oleh para wanita saat upacara Begawi. Kain ini digunakan sebagai baju bawahan para penari
2. Atribut yang dikenakan oleh para penari tapi sembah sigeh penguten antara lain adalah:
  • Mahkota Siger adalah mahkota berbentuk seperti tanduk yang ditatah hias bertitik-titik rangkaian bunga. Siger ini berlekuk ruji tajam berjumlah sembilan buah. Disetiap puncak lekukan diberi hiasan bunga cemara dari kuningan. Sedangkan bagian puncak siger diberi hiasan serenja bulan, yaitu hiasan berupa mahkota  kecil yang mempunyai lengkungan di bagian bawah dan beruji tajam-tajam pada bagian atas serta berhiaskan bunga. Mahkota siger ini secara keseluruhan terbuat dari bahan kuningan.
  • Mahkota siger Pending, yaitu ikat pinggang dari uang ringgit Belanda dengan gambar ratu Wihelmina di bagian atas.
  • Bulu serti, yaitu ikat pinggang yang terbuat dari kain beludru berlapis kain merah. Bagian atas ikat pinggang ini dijaitkan kuningan yang digunting berbentuk bulat dan bertahtakan hiasan berupa bulatan kecil-kecil. ikat pinggang bulu serti dikenakan diatas pending.
  • Mulan temanggal, yaitu hiasan dari kuningan berbentuk seperti tanduk tanpa motif yang digantungkan di leher sebatas dada.
  • Dinar, yaitu mata uang Arab dari emas yang diberi peniti dandigantungkan pada sesapur,tepatnya di bagian atas perut.
  • Buah jukum, yaitu hiasan berbentuk buah-buah kecil di atas kain yang dirangkai menjadiuntaian bunga dengan benang dan dijadikan kalung panjang yang dipakai melingkar mulai dari bahu ke bagian perut sampai ke belakang.
  • Gelang burung, yaitu hiasan dari kuningan berbentuk burung bersayap yang diatasnya direkatkan bebe yaitu kain halus yang berlubang-lubang. Gelang burung ini diikatkan pada lengan kiri dan kanan, tepatnya di bawah bahu.
  • Gelang kana adalah sebuah gelang yang terbuat dari kuningan berukir dan gelang Arab, yang dikenakan bersama-sama di lengan atas dan bawah.
  • Tanggai adalah hiasan yang berbentuk seperti kuku berwarna keemasan terbuat dari bahan kuningan yang dikenakan di jari penari.

 

6. Gerak Tari Sigeh Penguten

Ragam gerak tari Sigeh Penguten antara lain :
  1. Lapah tebeng. Merupakan gerak berpindah tempat. Gerak ini dipakai pada saat memasuki dan keluar area pertunjukan. Iringan yang dipakai untuk mengiringi penari masuk dan keluar area pentas memiliki tempo yang cepat atau disebut gupek.
  2. Seluang mudik merupakan gerak transisi dari posisi berdiri menuju posisi level rendah yaitu sikap jong simpuh. Pada saat penari melakukan gerak ini iringan terdengar lirih.
  3. Sembah adalah gerak yang bisa dikatakan gerak utama pada tarian ini.
  4. Kilat mundur merupakan gerak pergelangan tangan sebagai porosnya.
  5. Ngerujung merupakan gerak pergelangan tangan yang dilakukan dengan cepat dan lambat.
  6. Mempam bias merupakan salah satu gerak berpindah tempat, yang dilakukan oleh penari yang berada di area pertunjukan ketika penari pembawa tepak meninggalkan area pertunjukan kemudian membentuk formasi 2-2 (saling berhadapan).
  7. Gubuh gakhang merupakan salah satu gerak berpindah tempat, arahnya ke depan  dan ke belakang, kemudian arah hadapnya kembali ke depan.
  8. Ngiyau bias merupakan gerak yang dilakukan di tempat
  9. Tolak tebeng merupakan salah satu gerak berpindah tempat, arah geraknya ke arah sisi kanan dan kiri.
  10. Belah hui adalah gerak pergelangan tangan  yang dilakukan ke arah dalam dengan meluruskan kedua tangan di depan dada.
  11. Lipetto merupakan gerak penutup pada tari Sigeh Penguten
  12. Samber Melayang merupakan gerak penghubung antara gerak satu dan yang lain dan tidak ada makna tertentu.

 

7. Musik Pengiring Tari Sigeh Penguten

Tari Sigeh Penguten ditampilkan dengan dilengkapi iringan musik dari alat musik tradisional Lampung yang dikenal dengan nama Talo balak (Kulintang). Adapun nama tetabuhan dalam tari Sigeh Penguten ini disebut gupek dan tarei. Gupek adalah iringan yang memiliki tempo yang cepat. Tari adalah iringan yang memiliki tempo yang lambat digunakan pada pokok atau inti tari.


8. Video Tari Sigeh Penguten

Berikut ini video tari sigeh penguten yang berasal dari Lampung :


Demikian Sobat Tradisi, informasi mengenai tari Sigeh Penguten Lampung yang merupakan tari tradisional Lampung yang ditampilkan sebagai tradisi penyambutan tamu agung ala Lampung. Semoga bermanfaat.

Artikel Terkait