12 Tari Tradisional Jawa Tengah

12 Tari Tradisional Jawa Tengah | Adatnusantara - Provinsi Jawa Tengah memiliki segudang tari tradisional yang terdiri dari tari klasik, tari tradisi dan tari kreasi baru/tari modern. Kita sebagai generasi muda wajib mengetahui keanekaragamn tari tradisional dari daerah Jawa Tengah ini, bahkan mungkin beberapa diantara kita telah melestarikan tarian ini dengan mempelajari seni tari tradisional dari sanggar -sanggar seni tari yang tersebar di nusantara.

Tari tradisional yang berasal dari Jawa Tengah ini terbagi menjadi 3 yaitu :

1. Tari Klasik

  • Tari Bedhaya
  • Tari Gambyong
  • Tari Serimpi
  • Tari Beksan Wreng
  • Tari Bondan

2. Tari Tradisional

  • Tari Kuda Lumping / Ebeg
  • Tari Kete Ogleng
  • Sintren
  • Tari Jlantur

3. Tari Kreasi Baru

  • Tari Prawiroguni
  • Tari Ronggeng
  • Tari Wira Pertiwi
  • dan masih banyak lagi tari kreasi yang dihasilkan para koreografer Indonesia
Dan berikut ini penjelasan dari tari tradisional Jawa Tengah :

1. Tari Tradisional Jawa Tengah - Tari Bedhaya

Tari Bedhaya / Bedaya adalah tarian klasik Jawa yang dikembangkan dikalangan keraton-keraton mataram. Tari Bedhaya ditarikan oleh 7 atau 9 orang penari yang umumnya wanita dengan gemulai dan edukatif dengan diiringi oleh iringan musik gamelan.

Jumlah penari Bedhaya dari Kesultanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta biasanya 9 orang, sedangkan jumlah penari bedhaya dari Kabupaten Mangkunegara dan Pakualaman berjumlah 7 orang penari.

Untuk mengikuti tarian Bedhaya ini, para penari wanita disyaratkan masih perawan, tidak sedang menstruasi serta didahului dengan puasa sebagai bagian dari persyaratannya.

Tari Bedhaya yang dikenal saat ini antara lain :
Bedaya Ketawang, yaitu tarian pusaka Kasultanan Surakarta yang biasanya dilakukan pada saat perayaan jumenengan dalem (pelantikan) Sunan Surakarta. Tarian ini diciptakan oleh Sultan Agung, menceritakan tentang kisah pertemuan Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul serta perjanjian keduanya untuk saling menjaga kedua kerajaan.

Bedaya Anglirmendung, yaitu tarian pusaka Kadipaten Praja Mangkunegaran. Pencipta tarian Bedaya Anglirmendung ini adalah Sri Mangkunegara (Raden Mas Said) yaitu untuk mengenang pertempuran yang dipimpinnya melawan pasukan gabungan Surakarta dan VOC di Ponorogo pada tahun 1752.


Bedaya Babar Layar, yaitu tarian pusaka kesultanan Yogyakarta. Tari Bedhaya Babar Layar ini diciptakan oleh Sunan Pakubuwono. Tari Bedhaya Babar Layar bedaya Babar Layar menggambarkan peperangan antara pangeran pati (putera mahkota) kerajaan Kandhabuwana melawan kerajaan Ngambarkumala.

Tari Bedhaya Babar Layar - Gambar : http://budaya-indonesia.org


2. Tari Tradisional Jawa Tengah - Tari Gamyong

Tari Gamyong pada awalnya merupakan tari rakyat yang dipentaskan oleh penari jalanan. Pementasan tari jalanan ini disebut dengan Tledek. Salah seorang penari tledek bernama Sri Gamyong cukup banyak dikenal oleh masyarakat Surakarta pada waktu itu yaitu pada zaman Sinuhun Pakubowono IV (1788 s.d 1820). Sejak itulah tarian yang ia tarikan disebut dengan tari Gamyong.

Pada awalnya, tari gambyong digunakan pada upacara ritual pertanian yang bertujuan untuk kesuburan padi dan perolehan panen yang melimpah. Dewi Padi (Dewi Sri) digambarkan sebagai penari-penari yang sedang menari. Dan kini tari gambyong dipergunakan untuk memeriahkan acara resepsi perkawinan dan menyambut tamu-tamu kehormatan atau kenegaraan. Dan pihak keraton Mangkunegara Surakarta pun telah menata ulang dan membakukan gerakan tari gamyong hingga yang saat ini kita dapat saksikan yaitu dengan menampilkan gerakan yang  mampu menampilkan karakter tari yang luwes, kenes, kewes, dan tregel.

Sebelum tarian gamyong dimulai biasanya diawali dengan gendhing pangkur. Para penari menggunakan kostum warna kuning dan warna hijau sebagai  simbol kemakmuran dan kesuburan.



3. Tari Tradisional Jawa Tengah - Tari Serimpi

 Tari Serimpi adalah tari klasik yang berasal dari Jawa Tengah. Tari Serimpi ini muncul pada zaman kerajaan Mataram saat itu sedang dipimpin oleh Sultan Agung yaitu sekitar tahun 1613 - 1646. Tari Serimpi ini dianggap sakral karena hanya dipentaskan dalam lingkungan keraton untuk ritual kenegaraan dan peringatan kenaikan tahta Sultan.

Tari Serimpi dari Jawa Tengah ditampilkan dengan diiringi suara gamelan. Tari Serimpi ini terbagi dalam beberapa tari dengan tema yang beragam pula. Tarian Serimpi di Kesultanan Yogyakarta digolongkan menjadi Serimpi Babul Layar, Serimpi Dhempel, dan Serimpi Genjung. Untuk Kesultanan Surakarta, Serimpi digolongkan menjadi Serimpi Anglir Mendung dan Serimpi Bondan.



4. Tari Tradisional Jawa Tengah - Tari Beksan Wireng

 Tari Beksan Wireng yaitu tari yang menggambarkan perang atau latihan perang yang temanya Keprajuritan. Tari Wireng merupakan tarian untuk pria dengan gerakan tari bersumber dari gerakan pencak silat. Di Yogyakarta tari Wireng disebut dengan Beksan.

Ciri-ciri tari Wireng / Beksan Wireng antara lain :
- Para penarinya semua laki-laki
- Jumlah penari selalu genap
- Terdiri dari 3 bagian, yaitu pembuka (maju beksa), inti (inti beksa) dan penutup (mundur beksa), dimana masing - masing bagian ditandai dengan berubahnya tempo gendhing pengiringnya.

Kata Wireng sendiri berasal dari kata Wira (perwira) dan ‘Aeng’ yaitu prajurit yang unggul, yang ‘aeng’, yang ‘linuwih’.


5. Tari Tradisional Jawa Tengah - Tari Bondan

Tari Bondan adalah jenis tari klasik berasal dari Surakarta,Jawa Tengah.Tarian ini menceritakan bahwa kasih sayang ibu kepada anaknya melalui menggendong bayi dengan payung terbuka dengan hati-hati dan penuh perhatian.

Tari Bondan ini dapat dilakukan oleh seorang wanita dengan menggendong boneka bayi dengan payung teerbuka yang harus hati-hati karena dia menari di atas kendi dan kendi itu tidak boleh sampai pecah.

Tarian tari Bondan ada tiga jenis yaitu:
  • Tarian tari Bondan Cindogo
  • Tarian tari Bondan Mardisiwi
  • Tarian tari Bondan Pegunungan/Tani


6. Tari Tradisional Jawa Tengah - Tari Kuda Lumping


Kuda Lumping adalah tarian tradisional yang menggunakan properti berupa kuda tiruan. Kuda lumping atau juga disebut dengan Jaranan / Jaran Kepang atau jathilan merupakan tarian tradisional dari Jawa yang menampilkan sekelompok prajurit sedang menunggang kuda.

Menurut berbagai sumber tari kuda lumping ini menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, yang dibantu oleh Sunan Kalijaga, melawan penjajah Belanda. Ada pula yang menyebutkan bahwa tarian ini mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, Raja Mataram, untuk menghadapi pasukan Belanda. Dan terlepas dari asal usulnya, tarian kuda lumping ini merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan.

7. Tari Tradisional Jawa Tengah - Tari Kete / Kethek Ogleng 

Tari kethek ogleng merupakan tari tradisional dari Jawa Tengah atau tepatnya berasal dari desa Tokawi,kecamatan Nawangan,Kabupaten Pacitan. Tari Kethek Ogleng tersebut sudah ada sejak tahun 1962, yang merupakan hasil karya dari seorang petani  berumur 18 tahun yang bernama Sutiman. Sutiman yang kini memiliki sanggar seni krido wanoro terus mengembangkan tarian kethek ogleng ini.
Menurut Sutiman kata “Kethek Ogleng’’ diambil dari nama binatang yaitu kera dalam bahasa jawa “KETHEK”, Sedangkan Ogleng diambil dari gamelan yang berbunyi “gleng-gleng”
Tari Kethek Ogleng pertama kali dimainkan di tempat orang punya hajat perkawinan tepatnya akhir tahun 1963.  Pentas tersebut terlaksana atas permintaan Kepala Desa Tokawi pada Waktu itu D.Harjo Prawiro.
Penari Kethek ogleng mengenakan kostum serba putih yang menyerupai Hanoman dalam cerita pewayangan. Adapun gerakan tari menyerupai hewan kethek / monyet hanoman.


8. Tari Tradisional Jawa Tengah - Tari Sintren

Sintren (atau juga dikenal dengan Lais) adalan kesenian tari tradisional masyarakat Jawa, khususnya di Cirebon. Kesenian ini terkenal di pesisir utara Jawa Barat dan Jawa Tengah, antara lain di Indramayu, Cirebon, Majalengka, Jatibarang, Brebes, Pemalang, Tegal, Banyumas, Kuningan, dan Pekalongan. Kesenian Sintren dikenal sebagai tarian dengan aroma mistis/magis yang bersumber dari cerita cinta kasih Sulasih dengan Sulandono.
Kesenian Sintren berasal dari kisah Sulandono sebagai putra Ki Bahurekso Bupati Kendal yang pertama hasil perkawinannya dengan Dewi Rantamsari yang dijuluki Dewi Lanjar. Raden Sulandono memadu kasih dengan Sulasih seorang putri dari Desa Kalisalak, namun hubungan asmara tersebut tidak mendapat restu dari Ki Bahurekso, akhirnya R. Sulandono pergi bertapa dan Sulasih memilih menjadi penari. Meskipun demikian pertemuan di antara keduanya masih terus berlangsung melalui alam gaib.


Pertemuan tersebut diatur oleh Dewi Rantamsari yang memasukkan roh bidadari ke tubuh Sulasih, pada saat itu pula R. Sulandono yang sedang bertapa dipanggil oleh roh ibunya untuk menemui Sulasih dan terjadilah pertemuan di antara Sulasih dan R. Sulandono. Sejak saat itulah setiap diadakan pertunjukan sintren sang penari pasti dimasuki roh bidadari oleh pawangnya, dengan catatan bahwa hal tersebut dilakukan apabila sang penari masih dalam keadaan suci (perawan). sintren jg mempunyai keunikan tersendiri yaitu terlihat dari panggung alat-alat musiknya yang terbuat dari tembikar atau gembyung dan kipas dari bambu yang ketika ditabuh dengan cara tertentu menimbulkan suara yg khas.

9. Tari Tradisional Jawa Tengah - Tari Jelantur

Tari  Jlantur adalah tari tradisional asli Magelang Jawa Tengah  yang dimainkan oleh 40 orang pria dengan memakai ikat kepala gaya turki. Tariannya dilakukan dengan menaiki kuda kepang dengan senjata tombak dan pedang. Tarian ini menggambarkan prajurit yang akan berangkat ke medan perang, dahulu merupakan tarian penyalur semangat kepahlawanan dari keturunan prajurit Diponegoro.


10. Tari Tradisional Jawa Tengah - Tari Prawiroguno

Tari Prawiroguno adalah tari tradisional dari Jawa Tengah yang  menggambarkan seorang prajurit yang sedang berlatih diri dengan perlengkapan senjata berupa pedang untuk menyerang musuh dan juga tameng sebagai alat untuk melindungi diri. Dalam tari Prawiroguno terdiri dari 6 bagian yaitu maju beksan, beksan, sekaran, perangan, sekaran dan mundur beksan.
Berikut video tari Prawiroguno :



11. Tari Tradisional Jawa Tengah - Tari Ronggeng

Tari ronggeng telah berkembang di masyarakat Jawa Barat dan Jawa Tengah kemungkinan dari zaman kuno, relief di bagian Karmawibhanga pada abad ke-8 Borobudur menampilkan adegan perjalanan rombongan hiburan dengan musisi dan penari wanita. Yang pasti tari Ronggeng ini memang berbeda dengan tarian lainnya. Gerak tarian ronggeng lebih ekspresif bahkan mengarah ke eksotis.

Goyang, geol, gitek adalah ciri khas tarian ronggeng. Dengan ciri khas inilah seni ronggeng menjadi identik sebagai seni yang mampu membuat kaum lelaki bangkit libidonya, sehingga akhirnya citra seni ronggeng menjadi sangat jelek.

Tari ronggeng sebenarnya merupakan bagian dari upacara untuk meminta kesuburan tanah. Upacara ini dilakukan supaya hasil pertanian warga melimpah ruah. Karena terkait dengan kesuburan inilah, gerakan dalam tarian dengan penari laki-laki yang disebut bajidor ini, mirip gerakan orang yang sedang bercinta.

Pergeseran mulai terjadi di zaman kolonialis. Sejak era kolonial Portugis hingga Belanda dan Jepang, ronggeng dijadikan sebagai hiburan di daerah perkebunan. Tak hanya bagi pekerja perkebunan, Ronggeng merupakan hiburan bagi kaum penjajah saat itu. Walhasil, sejak saat itulah ronggeng tak lagi sekadar sebagai ritual adat. Sebagai hiburan, seni, ronggeng akhirnya lebih banyak bermuatan unsur erotis, mulai dari cara berpakaian penari, gaya tarinya, bahkan hingga perilaku di atas panggung yang lebih memancing birahi kaum adam.



12. Tari Tradisional Jawa Tengah - Tari Wira Pertiwi


Tari Wira Pertiwi merupakan tari kreasi baru  ciptaan Bagong Kussudiardjo yang menggambarkan sosok kepahlawanan seorang prajurit putri Jawa. Semangat prajurit wanita dalam olah keprajuritan memanah. Wujud semangat penuh pengabdian bela Negara para Srikandi Indonesia pada Tanah air dan Bangsa. Ketegasan, ketangkasan dan ketangguhan seorang prajurit tergambar dalam gerak yang dinamis.



Demikian Sobat tradisi, beberapa contoh 12 tari tradisional Jawa Tengah yang wajib kita lestarikan. Semoga menambah wawasan Sobat semua.